atikaa08's blog

mencari dan memberi yang terbaik

 

PERMASALAHAN BANK CENTURY DAN SOLUSINYA

 

Penjabaran Kasus Bank Century

Krisis yang dialami Bank Century bukan disebabkan karena adanya krisis global, tetapi karena disebakan permasalahan internal bank tersebut. Permasalahan internal tersebut adalah adanya penipuan yang dilakukan oleh pihak manajemen bank terhadap nasabah menyangkut:

  1. Penyelewengan dana nasabah hingga Rp 2,8 Trilliun (nasabah Bank Century sebesar Rp 1,4 Triliun dan nasabah Antaboga Deltas Sekuritas Indonesia sebesar Rp 1,4 Triliiun)
  2. Penjualan reksa dana fiktif produk Antaboga Deltas Sekuritas Indonesia. Dimana produk tersebut tidak memiliki izin BI dan Bappepam LK.

Kedua permasalahan tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi nasabah Bank Century. Dimana mereka tidak dapat melakukan transaksi perbankan dan uang mereka pun untuk sementara tidak dapat dicairkan.

Kasus Bank Century sangat merugikan nasabahnya. Dimana setelah Bank Century melakukan kalah kliring, nasabah Bank Century tidak dapat melakukan transaksi perbankan baik transaksi tunai maupun transaksi nontunai. Setelah kalah kliring, pada hari yang sama, nasabah Bank Century tidak dapat menarik uang kas dari ATM Bank Century maupun dari ATM bersama. Kemudian para nasabah mendatangi kantor Bank Century untuk meminta klarifikasi kepada petugas Bank. Namun, petugas bank tidak dapat memberikan jaminan bahwa besok uang dapat ditarik melalui ATM atau tidak. Sehingga penarikan dana hanya bisa dilakukan melalui teller dengan jumlah dibatasi hingga Rp 1 juta. Hal ini menimbulkan kekhawatiran nasabah terhadap nasib dananya di Bank Century.

Setelah tanggal 13 November 2008, nasabah Bank Century mengakui transksi dalam bentuk valas tidak dapat diambil, kliring pun tidak bisa, bahkan transfer pun juga tidak bisa. Pihak bank hanya mengijinkan pemindahan dana deposito ke tabungan dolar. Sehingga uang tidak dapat keluar dari bank. Hal ini terjadi pada semua nasabah Bank Century. Nasabah bank merasa tertipu dan dirugikan dikarenakan banyak uang nasabah yang tersimpan di bank namun sekarang tidak dapat dicairkan. Para nasabah menganggap bahwa Bank Century telah memperjualbelikan produk investasi ilegal. Pasalnya, produk investasi Antaboga yang dipasarkan Bank Century tidak terdaftar di Bapepam-LK. Dan sudah sepatutnya pihak manajemen Bank Century mengetahui bahwa produk tersebut adalah illegal.

Hal ini menimbulkan banyak aksi protes yang dilakukan oleh nasabah. Para nasabah melakukan aksi protes dengan melakukan unjuk rasa hingga menduduki kantor cabang Bank Century. Bahkan para nasabah pun melaporkan aksi penipuan tersebut ke Mabes Polri hingga DPR untuk segera menyelesaikan kasus tersebut, dan meminta uang deposito mereka dikembalikan. Selain itu, para nasabah pun mengusut kinerja Bapepam-LK dan BI yang dinilai tidak bekerja dengan baik. Dikarenakan BI dan Bapepam tidak tegas dan menutup mata dalam mengusut investasi fiktif Bank Century yang telah dilakukan sejak tahun 2000 silam. Kasus tersebut pun dapat berimbas kepada bank-bank lain, dimana masyarakat tidak akan percaya lagi terhadap sistem perbankan nasional. Sehingga kasus Bank Century ini dapat merugikan dunia perbankan Indonesia.

Solusi Kasus Bank Century

Dari sisi manager Bank Century menghadapi dilema dalam etika dan bisnis. Hal tersebut dikarenakan manager memberikan keputusan pemegang saham Bank Century kepada Robert Tantular, padahal keputusan tersebut merugikan nasabah Bank Century. Tetapi disisi lain, manager memiliki dilema dimana pemegang saham mengancam atau menekan karyawan dan manager untuk menjual reksadana fiktif tersebut kepada nasabah. Manajer Bank Century harus memilih dua pilihan antara mengikuti perintah pemegang saham atau tidak mengikuti perintah tersebut tetapi dengan kemungkinan dia berserta karyawan yang lain terkena PHK. Dan pada akhirnya manager tersebut memilih untuk mengikuti perintah pemegang saham dikarenakan manager beranggapan dengan memilih option tersebut maka perusahaan akan tetap sustain serta melindungi karyawan lain agar tidak terkena PHK dan sanksi lainnya. Walaupun sebenarnya tindakan manager bertentangan dengan hukum dan etika bisnis. Solusi dari masalah ini sebaiknya manager lebih mengutamakan kepentingan konsumen yaitu nasabah Bank Century. Karena salah satu kewajiban perusahaan adalah memberikan jaminan produk yang aman.

Dari sisi pemegang saham yaitu Robert Tantular, terdapat beberapa pelanggaran etika bisnis, yaitu memaksa manajer dan karyawan Bank Century untuk menjual produk reksadana dari Antaboga dengan cara mengancam akan mem-PHK atau tidak memberi promosi dan kenaikan gaji kepada karyawan dan manajer yang tidak mau menjual reksadana tersebut kepada nasabah. Pelanggaran yang terakhir adalah, pemegang saham mengalihkan dana nasabah ke rekening pribadi. Sehingga dapat dikatakan pemegang saham hanya mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan perusahaan, karyawan, dan nasabahnya (konsumen). Solusi untuk pemegang saham sebaiknya pemegang saham mendaftarkan terlebih dahulu produk reksadana ke BAPPEPAM untuk mendapat izin penjualan reksadana secara sah. Kemudian, seharusnya pemegang saham memberlakukan dana sabah sesuai dengan fungsinya (reliability), yaitu tidak menyalah gunakan dana yang sudah dipercayakan nasabah untuk kepentingan pribadi.

Dalam kasus Bank Century ini nasabah menjadi pihak yang sangat dirugikan. Dimana Bank Century sudah merugikan para nasabahnya kurang lebih sebesar 2,3 trilyun. Hal ini menyebabkan Bank Century kehilangan kepercayaan dari nasabah. Selain itu karena dana nasabah telah disalahgunakan maka menyebabkan nasabah menjadi tidak sustain, dalam artian ada nasabah tidak dapat melanjutkan usahanya, bahkan ada nasabah yang bunuh diri dikarenakan hal ini. Solusi untuk nasabah sebaiknya dalam memilih investasi atau reksadana nasabah diharapkan untuk lebih berhati-hati dan kritis terhadap produk yang akan dibelinya. Jika produk tersebut adalah berupa investasi atau reksadana, nasabah dapat memeriksa kevalidan produk tersebut dengan menghubungi pihak BAPPEPAM.

Dikarenakan kasus ini kinerja BI dan BAPPEPAM sebagai pengawas tertinggi dari bank-bank nasional menjadi diragukan, karena BI dan BAPPEPAM tidak tegas dan lalai dalam memproses kasus yang menimpa Bank Century. Dimana sebenarnya BI dan BAPPEPAM telah mengetahui keberadaan reksadana fiktif ini sejak tahun 2005. Untuk Bank-bank nasional lainnya pengaruh kasus Bank Century mengakibatkan hampir terjadinya efek domino dikarenakan masyarakat menjadi kurang percaya dan takut bila bank-bank nasional lainnya memiliki “penyakit” yang sama dengan Bank Century dikarenakan krisis global, dengan kata lain merusak nama baik bank secara umum. Solusi untuk BI dan BAPPEPAM sebaiknya harus lebih tegas dalam menangani dan mengawasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh bank-bank yang diawasinya. Selain itu sebaiknya mereka lebih sigap dan tidak saling melempar tanggung jawab satu sama lain. Dan saran untuk Bank Nasional lainnya, sebaiknya bank-bank tersebut harus lebih  memperhatikan kepentingan konsumen atau nasabah agar tidak terjadi kasus yang sama.

 

Review Buku The Deleveloping Person

 
  1. 1. Perkembangan Fisik Remaja

Masa remaja bagi para ahli psikologi adalah masa yang penuh dengan keributan dan tekanan, emosi yang sedang bergejolak dan jiwa yang tegang. Remaja mencoba untuk mengatasi pertumbuhan fisiknya yang cepat, munculnya seksualitas, dan masalah mengenai identitas dan kebebasan saat mendekati masa dewasanya. Menurut Hall, remaja merupakan masa dimana seseorang merasa lahir atau bangkit kembali. Kedewasaan psikologi bukan hanya perubahan ukuran, namun juga perubahan cara pandang seseorang terhadap dunia. Hall menambahkan bahwa setiap generasi baru mampu melebihi generasi sebelumnya dalam hal moral dan keintelektualan seorang pemimpin, karena remaja sekarang bersifat idealis, mementingkan kepentingan orang lain, dan mempunyai sikap rela berkorban.

Secara umum teori psikoanalitik setuju dengan pandapat Hall. Terutama pandapat mengenai hanya sedikit orang tua yang dapat melindungi anaknya dari tekanan saat remaja, sejak kedewasaan seksual remaja berkembang cepat dan rasa seksualitas menguasai dirinya maka akan terjadi konflik dengan larangan dalam budaya yang bertentangan dengan kebebasan mereka dalam berekspresi. Sebuah alasan mengapa teori psikoanalitik percaya bahwa orang tua tidak dapat mencegah konflik tersebut (frenzied conflict) pada remaja karena mereka sendiri yang menyebabkannya. Menurut Freud (1960), gerak hati dan fantasi saat masa Oedipal Complex yang ditekan selama periode latency, muncul kembali saat pubertas karena penekanan saat latency tidak cukup kuat untuk mempertahankan ego yang bertentangan dengan dorongan seksual saat remaja. Sebelum remaja dapat mencapai masa genital, ketika seksualitas diekspresikan pada sebayanya, mereka harus dapat bebas meresakan rasa seksual atau dapat bebas menyukai ibu atau ayahnya. Pada saat ini sementara waktu anak-anak akan merasa benci terhadap orang tua yang sesama jenis dengan mereka, ini adalah sebuah mekanisme bertahan yang disebut dengan pembentukan reaksi (reaction formation).

Teori psikoanalitik menyetujui sebuah konflik pada remaja dimana kita harus mewaspadai kesehatan psikologi remaja yang tidak nampak adanya gangguan emosi seperti yang akan dijelaskan berikut:

Kita semua mengetahui bahwa remaja sekitar usia 14,15,16 tahun menunjukkan fakta yang berbeda. Selama periode latency, mereka tetap menjadi anak yang baik, mereka menjaga hubungan baik dengan keluarganya, memperhatikan ibu, dan patuh pada ayahnya. Namun hal tersebut menunjukkan adanya keterlambatan perkembangan normal, dan itu menunjukkan tanda yang serius. Anak terlalu banyak bertahan agar tidak bertentangan dengan peraturan yang ada, tetapi hal tersebut malah bertentangan dengan proses kedewasaan yang normal.

Pubertas. Pubertas adalah periode dari pertumbuhan fisik akhir masa anak-anak yang akan menuju masa perubahan ukuran, bentuk, dan munculnya seksualitas. Secara umum banyak perubahan yang terjadi selama pubertas yang dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pertumbuhan primer yang menyangkut semua pertumbuhan anggota tubuh pada remaja dan pertumbuhan yang lebih spesifik lagi yang menyangkut pertumbuhan seksual pada laki-laki dan perempuan. Pertumbuhan fisik pada laki-laki maupun perempuan tumbuh sangat cepat pada saat remaja, namun percepatan pertumbuhan laki-laki dua tahun lebih lambat dibandingkan perempuan. Pertumbuhan yang terjadi pada laki-laki yaitu lebih tinggi, tidak gemuk, lebih berotot, dan perubahan suara menjadi lebih berat. Sedangkan pertumbuhan pada perempuan adalah pertumbuhan buah dada yang merupakan tanda pertama terjadinya pubertas, perubahan suara menjadi lebih sexy. Dan pada keduanya mulai muncul pubic hair di daerah tertentu pada anggota badannya.

Menurut Katchadourian 1977, indikasi biokimia saat pubertas yaitu meningkatnya konsentrasi hormon dalam aliran darah. Dan tanda pertama saat pubertas nampak jelas dari adanya pembesaran dada pada perempuan dan testis pada laki-laki. Pada akhir masa anak-anak, baik laki-laki mapupun perempuan mulai menjadi lebih berat terutama oleh penimbunan lemak di kaki, tangan, pantat, dan daerah sekitar perut. Para ahli psikologi sepakat bahwa salah satu tugas perkembangan remaja adalah mengenai body image atau konsep tentang penampilan fisik. Selama proses mendapatkan body image mereka, sebagian besar remaja mengacu pada budaya yang berpikiran bahwa tubuh ideal adalah tubuh yang langsing, berbentuk indah, tinggi, dan pada laki-laki adalah tubuh lebih berotot. Budaya tersebut dikenalkan oleh film, televisi, dan iklan. Remaja berusaha tampil semenarik mungkin untuk memikat lawan jenis mereka. Hass (1979) menemukan karakteristik bahwa laki-laki mencari perempuan yang berpenampilan menarik, memiliki tubuh yang indah, mudah berteman, dan berintelektual. Sedangkan perempuan mencari laki-laki yang berintelektual, berpenampilan menarik, tubuh yang bagus, dan pintar berbicara.

Selain pertumbuhan tersebut, dalam periode ini organ dalam juga mengalami pertumbuhan. Paru-Paru bertambah ukuran dan kapasitasnya sehingga membuat remaja dapat bernapas lebih dalam dan lambat, dan hati menjadi dua kali lipat ukurannya yang mengakibatkan volume total darah meningkat. Sistem pencernaan juga mengalami peningkatan kapasitas, walaupun tidak akan secepat remaja yang sudah puas makan tiga kali dalam sehari. Menurut Schacter et al, 1971, banyak perubahan fisik yang terjadi selama masa pubertas yang menimbulkan dampak besar, seperti meningkatnya minyak, gula, dan aktivitas kelenjar. Dampak dari hal tersebut yaitu timbulnya jerawat yang merupakan masalah bagi dua dari tiga laki-laki dan setengah dari perempuan antara usia 14 sampai 19 tahun.

Pertambahan tinggi dan berat saat pubertas pada remaja ditentukan oleh konsumsi kalori yang lebih banyak dibandingkan  periode yang lain dalam hidup. Tubuh remaja memerlukan lebih banyak mineral dan vitamin seperti kalsium, besi, dan vitamin A, B2, C, dan D. Selain itu juga membutuhkan lebih banyak protein daripada masa anak-anak. Masalah yang sering dialami oleh remaja putri selama periode pubertas dimulai adalah kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan terjadinya anemia. Hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi dimana ia mengeluarkan darah setiap bulannya. Remaja membutuhkan asupan nutrisi yang cukup karena perkembangan kognitif dan psikologi membutuhkannya untuk dapat menemukan banyak ide baru dan gaya hidup. Masalah yang lebih kompleks terjadi pada remaja yang sedang hamil karena membutuhkan lebih banyak nutrisi untuk pertumbuhan janinnya. Kekurangan nutrisi merupakan salah satu alasan ibu usia di bawah 16 tahun melahirkan bayi yang premature.

Selama remaja, semua organ seks manjadi lebih matang. Pada perempuan, uterus mulai matang dan lapisan vagina menjadi lebih tebal. Pada laki-laki, testis mulai tumbuh membesar, penis mulai memanjang, dan kantung kemaluan mulai membesar dan mulai menggantung. Menurut Kinsey et al., 1948, diakhir masa remaja, organ reproduksi sudah benar-benar  matang dan siap untuk melakukan reproduksi. Untuk perempuan indikasi jika organ reproduksinya sudah fertile adalah terjadinya menstruasi. Sedangkan pada laki-laki indikasinya adalah terjadi ejakulasi yaitu keluarnay cairan sperma. Ejakulasi terjadi saat mimpi basah, masturbasi, atau saat melakukan hubungan seksual.

Perbedaan gender. Helene Deutsch (1944), seorang psikoanalisis menjelaskan dalam pandangannya perempuan ditakdirkan untuk lebih pasif dan menerima, sedangkan laki-laki ditakdirkan untuk lebih aktif dan agesif. Elizabeth Douvan dan Joseph Adelson menggambarkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam melakukan hubungan seksual yaitu bagi laki-laki berhubungan seks adalah kesombongan, dan menemukan dalam dirinya sendiri mengenai arti melakukan hubungan seks tanpa melakukan banyak kesalahan. Sedangkan hubungan seks bagi perempuan adalah hubungan dengan laki-laki yang dia cintai, hubungan yang didasari pada kepercayaan, perhatian, dan berbagi pengalaman dalam hidup. Mayoritas remaja percaya bahwa aktivitas seksual antara laki-laki dan perempuan  dapat menggambarkan hubungan mereka, lebih banyak laki-laki daripada perempuan yang menerima pendapat bahwa hubungan seksual tanpa komitmen adalah sesuatu yang diizinkan. Perbedaan perilaku seksual antara laki-laki dan perempuan yaitu adanya masturbasi. Menurut Miller dan Lief 1976, masturbasi terjadi karena penyakit mental dan fisik yang diakibatkan seseorang yang suka menyendiri. Namun remaja laki-laki lebih suka melakukan masturbasi dibandingkan remaja perempuan.

Proses pubertas dimulai ketika hormon yang berasal dari hypothalamus (bagian dari otak) memicu hormon dari pituitary gland (yang biasa disebut master gland yang ada didasar tengkorak) yang memicu produksi hormon oleh gonands atau kelenjar kelamin (testis pada laki-laki dan ovary pada perempuan). Pada perempuan hormon yang paling penting untuk diproduksi oleh kelenjar kelamin adalah estrogen dan progesteron yang menyebabkan pertumbuhan buah dada, munculnya pubic hair, pelebaran pinggul, dan terjadinya menstruasi. Pada laki-laki hormon yang paling penting adalah testosteron yang menyebabkan pertumbuhan testis, penis, munculnya pubic hair, terjadinya ejakulasi, perubahan suara, dan tumbuhnya jenggot. Menurut Zacharias et al, 1976 dan Schoof-Tams et al, 1976, tanda pertama dari kapasitas reproduksi pada perempuan lebih awal beberapa bulan dibandingkan pada laki-laki. Rata-rata perempuan mengalami menstruasi pada usia 12 tahun 8 bulan, sedangkan laki-laki mengalami ejakulasi pertama pada usia 13 tahun. Itu sebabnya antara umur 12 sampai 14 tahun, perempuan lebih tinggi daripada teman kelasnya yang laki-laki.

Awal dan keterlambatan masa pubertas. Beberapa dampak dari masa awal pubertas yang bervariasi pada usia setiap remaja yaitu pada perempuan diketahui lebih tinggi dan berkembang daripada teman kelasnya yang laki-laki. Penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat ke-7 dan ke-8, kedewasaan pada perempuan lebih mungkin menjadikan mereka dihormati dan disukai. Satu lagi, mereka lebih tertarik pada laki-laki yang lebih tua. Untuk rata-rata keterlambatan kedewasaan pada laki-laki, akan bermasalah lebih umum dan lebih lama. Mereka harus melihat diri mereka sendiri menjadi dikenal, pertama oleh perempuan, kemudian oleh laki-laki di kelasnya, dan mereka terpaksa harus menahan ejekan yang merendahkan diri mereka. Menurut Jones dan Bayley, 1950 dalam Berkeley Growth Study menemukan bahwa keterlambatan kedewasaan pada laki-laki akan menjadikan mereka kurang tenang, kurang santai, lebih gelisah, dan lebih banyak bicara daripada yang mengalami kedewasaan lebih awal.

Selama pubertas ada masalah yang dihadapi laki-laki maupun perempuan. Masalah yang dihadapi laki-laki lebih sulit dibandingkan perempuan. Pertumbuhan fisik mereka terjadi dengan lambat yang artinya laki-laki tidak hanya lebih pendek tetapi juga lebih lemah daripada rata-rata perempuan sekitar usia 12 sampai 14 tahun. Dan karena pertumbuhan mereka akhirnya akan lebih cepat daripada perempuan, membuat mereka dan keluarganya harus mengatur peningkatan nafsu makan, ukuran  baju yang baru, dan perubahan diri mereka yang lebih cepat dibandingkan perempuan. Selain itu laki-laki juga akan lebih banyak berjerawat daripada perempuan dan memiliki suara yang lebih cempreng sebelum mereka dewasa. Perkembangan seksual juga menimbulkan lebih banyak masalah daripada perkembangan fisik. Banyak dari mereka khawatir jika mereka akan nampak tegang saat membacakan cerita di depan kelas atau saat sedang berdansa dengan perempuan. Semenjak laki-laki memiliki lebih banyak masalah sebagai hasil dari perubahan biologi selama pubertas daripada perempuan, seharusnya orang tua menunjukkan tanda dari emosi yang berbahaya selama remaja pada laki-laki. Remaja awal merupakan masa yang penuh tekanan bagi keluarga. Roberta Simons 1973 membuat pola untuk ukuran empat dimensi dari konsep diri pada remaja, yaitu:

a)     Kesadaran diri

b)     Kestabilan diri

c)     Kepercayaan diri secara umum

d)     Kepercayaan diri secara khusus

  1. 2. Perkembangan Kognitif Remaja

Formal operasional. Remaja sanggup untuk berspekulasi, melakukan hipotesis, dan berfantasi lebih cepat daripada anak-anak yang masih berpikir konkrit operasional. Banyak remaja yang dapat mengerti dan mebuat bagian yang penting atau peraturan formal untuk menjelaskan banyak aspek dari pengalaman manusia. Piaget menyebut tahapan terakhir dari perkembangan kognitif, pada usia sekitar 15 tahun, sebagai formal operasional. Tahapan dimana remaja mulai membangun sebuah sistem atau teori mengenai literatur, phylosopi, moralitas, cinta, dan pekerjaan di dunia. Inhelder dan Piaget (1958) melakukan percobaan klasik yang menentukan adanya perkambangan logika pada anak antara usia 5 sampai 15 tahun. Menurut Flavell, terkadang selama masa remaja, orang memulai untuk memahami beberapa pernyataan yang masuk akal dan beberapa tidak masuk akal. Saat masa awal perkembangan kognitif, terdapat perbedaan antara potensi dan penampilannya. Banyak remaja dan orang dewasa yang memiliki kemampuan kognitif untuk berpikir logis, tapi mereka tidak selalu dapat melakukannya, terutama ketika mereka berpikir tentang diri mereka sendiri.

Egosentris pada remaja. Untuk memiliki kemampuan berpikir logis dan imajinatif, dan untuk melihat hipotesis dan kemungkinan, remaja menunjukkan karakteristik kognitif yang lain yaitu egosentrisme. Remaja juga sudah pernah berpikir secara egosentris sewaktu masa preoperasional yaitu saat usia prasekolah, yang berasumsi bahwa semua orang berpikiran sama dengannya. Sedikit fakta yang menunjukkan logika dan pendapat remaja membuat remaja rentan untuk berpikir egosentris pada tipe yang lain. Elkind juga menjelaskan bahwa remaja seringkali berimajinasi dirinya menjadi audience, dalam fantasi mereka, mereka memikirkan bagaimana yang lain akan bereaksi terhadap penampilan dan tingkah laku mereka. Padahal mereka tahu bahwa orang lain tidak akan berpikiran sama dengan mereka mengenai apa yang mereka pikirkan. Remaja sangat memperhatikan penampilan fisik mereka, terkadang mereka menghabiskan banyak waktu di depan cermin, dan mereka berasumsi bahwa setiap orang akan mempunyai penilaian yang sama dengannya. Menurut Elkind, 1974, egosentris terkadang menunjukkan sesuatu yang mungkin menjadi tidak mungkin. Contohnya ketika seorang remaja beimajinasi menjadi pahlawan. Mereka melihat diri mereka ditakdirkan untuk menjadi terkenal dan beruntung, yang dapat menemukan obat kanker, atau mempunyai hak atas sebuah karya yang besar.

Perkembangan Moral. Perkembangan formal operasional berkaitan dengan aspek penting yang lainnya pada perkembangan kognitif, yaitu perkembangan pertimbangan moral. Suatu ketika remaja dapat mengimajinasikan solusi alternatif dari beberapa kasus dalam ilmu pengetahuan, logika, atau ilmu sosial, mereka seharusnya dapat menerapkan tipe yang sama dari proses berpikir mengenai yang benar dan yang salah. Gambaran menurut Kohlberg tentang tahapan dari pertimbangan moral remaja, remaja yang mampu berpikir secara formal operasional juga biasanya mampu untuk berpikir secara layak pada tahap keempat (mengakui bahwa hukum seharusnya dipatuhi untuk memelihara keadaan sosial masyarakat), tahap kelima (mengakui bahwa hukum mencerminkan kebutuhan masyarakat), atau pada tahap keenam (mengakui bahwa prinsip dasar secara keseluruhan harus dipatuhi).

Dari perkembangan moral ini ada implikasinya di bidang pendidikan, yaitu akan dijelaskan berikut. Kurikulum di sekolah dasar terpusat pada praktek yang terpola pada cara berpikir anak SD yang berpikir secara konkrit operasional. Bagian terpenting dari masa sekolah dasar adalah mengajarkan anak untuk menyayangi binatang, alam, atau berbicara mengenai perubahan pohon dari musim gugur hingga musim semi. Di masa sekolah menengah pertama mengenalkan pada anak mengenai percobaan yang simpel seperti melakukan pembedahan pada katak, merangkaikan aliran listrik, atau menentukan aliran air menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Karena kemampuan remaja untuk berpikir abstrak sudah meningkat saat berada di sekolah menengah atas dan saat di perguruan tinggi. Pada tingkat ini pelajaran-pelajaran yang sudah dapat dimasukan ke dalam kurikulum yaitu biologi sehingga dapat menjelaskan dan mendiskusikan mengenai teori sel, fisika, kimia sehingga dapat diajarkan cara menghitung perpindahan atom. Dalam pelajaran bahasa inggris di tinggkat sekolah menengah ke atas, sudah tidak lagi terpusat pada peraturan mengenai grammar dan mekanisme dari membaca dan menulis, tetapi mengajarkan pada anak yang lebih kompleks lagi mengenai majas-majas seperti majas metafora, ironi, dan sarkasme. Bahkan dalam keseharian remaja dan juga anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar sangat menyukai menggunakan majas sarkasme dalam berkomunikasi. Oleh karena itu semenjak remaja mulai menunjukkan potensinya dalam berpikir formal operasional, harus diberikan arahan agar dapat lebih bermanfaat bagi perubahan remaja dan dapat memberikannya motivasi.

Kohlberg, Turiel, dan ahli psikologi lainnya percaya bahwa solusi dari remaja yang mengalami dilema dalam perkembangan moralnya itu tergantung tidak hanya karena kedewasaan kognitifnya tapi juga cara berdialog mereka dengan orang lain. Karenanya saran untuk orang tua dan guru yang sedang berhadapan dengan remaja yang menanyakan mengenai moral, sebaiknya mereka mendengarkan dan membahasnya dengan remaja.

Dua issue moral. Dua issue moral yang dihadapi oleh remaja sekarang ini adalah penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku seksual yang menyimpang. Beberapa orang menggunakan obat-obatan seperti rokok, alkohol, mariyuana, dan terkadang mereka menggunaknya untuk menurunkan berat badan, meningkatkan mood, atau untuk menghilangkan insomnia. Sedangkan perilaku seksual yang menyimpang diantaranya adalah homoseksual, biseksual, dan perilaku seksual sebelum menikah.

Perilaku seksual. Banyak psikologis yang percaya bahwa perilaku seksual remaja sekarang ini lebih sehat daripada generasi sebelumnya. Hal ini dikarenakan mereka memiliki pengetahuan mengenai seks yang cukup baik. Namun bagaimanapun parilaku seksual remaja sekarang ini menjadi maslaah sosial yang membuat banyak psikologis khawatir jika hal tersebut menjadi diperbolehkan dan bahkan dianjurkan pada remaja untuk memiliki lebih banyak pengalaman seksual sebelum mereka mencapai kedewasaan. Dari masalah perilaku seksual tersebut timbul masalah pertama yaitu adanya penyakit kelamin (veneral disease/VD) seperti syphilis dan gonorrhea, yang disebarkan melalui kontak seksual. Dengan ditemukannya antibiotic, banyak psikologis yang berpikir bahwa penyakit kelamin tersebut dapat diobati.  Masalah kedua dari adanya perilaku seksual yang menyimpang tersebut adalah adanya remaja yang hamil. Perempuan berusia di bawah 15 tahun pada saat sekarang hanyalah satu-satunya kelompok yang memiliki jumlah kelahiran lebih banyak daripada generasi sebelumnya. Selain itu perempuan di bawah umur 15 tahun juga diketahui banyak melakukan tindakan aborsi. Sekarang ini angka kelahiran bayi yang dilahirkan dari seorang ibu muda tanpa ayah mengalami peningkatan. Banyak juga bayi yang dilahirkan oleh pasangan muda yang menikah karena hamil. Banyak remaja yang memiliki kepercayaan bahwa mereka tidak akan langsung hamil dengan melakukan hubungan seksual. Ada remaja yang mengatakan,”Aku tidak berpikir kalau aku akan hamil. Aku sudah melakukan hubungan seksual selama dua tahun. Dan sejauh ini aku tidak hamil.” Tanda lain dari ketidakmatangan kognitif yang disampaikan oleh Furstenberg (1976), adalah banyak remaja yang senang memikirkan tentang seks dan melakukannya dengan spontan, mereka merasa tidak perlu menyiapkan apapun unutk melakukannya. Ada fakta lain dari kehamilan di luar nikah ini. Banyak remaja yang diketahui hamil namun mereka menolak kenyataan tersebut kemudian memutuskan unutk melakukan aborsi atau meggugurkan kandungannya.

Yang menjadi alasan terjadinya peningkatan masalah seksual selama remaja adalah karena terjadinya peningkatan aktivitas seksual diantara remaja yang menyebabkan adanya wabah dari penyakit kelamin dan remaja yang hamil.

Penggunaan obat-obatan terlarang. Sekarang ini penggunaan obat-obatan terlarang pada remaja mengalami peningkatan daripada masa generasi sebelumnya. Remaja pada masa sebelumnya dalam menggunakan obat-obatan terlarang hanya sebatas mengkonsumsi alkohol, dengan setengah dari siswa sekolah menengah pertama dan tiga dari empat siswa sekolah menengah atas mengaku sudah pernah mengkonsumsinya. Kemudian tobacco pada tingkat yang kedua dan mariyuana pada tingkat yang ketiga dengan sekitar 40 persen siswa sekolah menengah atas mengaku pernah mengonsumsinya. Pada masa sekarang penggunaan obat-obatan terlarang tidak hanya sebatas konsumsi alkohol, tetapi juga konsumsi pil seperti amphetamines, barbiturates, dan tranquilizers. Para ahli psikologis percaya penggunaan obat-obatan terlarang sekarang ini dengan tujuan untuk menanggulangi tekanan pada kehidupan modern sekarang ini. Di sisi lain, ahli psikologis juga menerima alasan remaja yang menggunakan obat-obatan terlarang adalah untuk membuat mereka lebih santai, untuk menanggulangi tekanan, terutama karena alasan sosial, mereka menggunakannya agar terlihat lebih dewasa, terutama ketika mereka bersama dengan teman sebayanya, dan mereka juga menggunakannya dengan alasan untuk melakukan pemberontakan pada apa yang mereka tidak senangi.

Untuk para orang tua yang khawatir anak remajanya akan mengonsumsi obat-obatan terlarang, berikut akan dijelaskan mengenai sebab-sebab seorang remaja mengonsumsi obat-obatan. Sebuah penelitian mengindikasikan bahwa jika teman sebayanya mengonsumsi obat-obatan terlarang maka akan memberikan pengaruh juga pada seorang remaja. Dan dapat dimungkinkan ia pun akan mengonsumsinya. Selain itu yang menyebabkan remaja mengonsumsi obat-obatan terlarang adalah karena hubungannya dengan orang tua yang memanas atau tidak harmonis. Menurut Kandel, 1974, Feldman dan Rosenkrantz, 19977, perilaku seorang remaja yang mengonsumsi obat-obatan terlarang juga ada hubungannya dengan orang tua yang juga mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Referensi

Berger Kathleen Stassen. 1980. The Developing Person. New York: Worth Publisher, Inc.

 

Pemrosesan Informasi

 

Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.

Teori pengolahan informasi merupakan pendekatan untuk mempelajari perkembangan kognitif yang lahir dari tradisi eksperimental Amerika dalam psikologi. Teoritikus informasi pengolahan mengusulkan agar pikiran manusia disamakan seperti sebuah komputer yang merupakan sebuah sistem yang memproses informasi melalui penerapan aturan logika dan strategi. Seperti komputer, pikiran memiliki kapasitas yang terbatas untuk jumlah dan sifat informasi yang dapat diproses.

Seperti komputer yang dapat dibuat menjadi informasi yang lebih baik oleh prosesor  dalam perangkat keras (misalnya, papan sirkuit dan microchip) dan perangkat lunak (program), begitu juga dengan anak-anak yang menjadi lebih canggih dalam proses berpikir melalui perubahan dalam otak dan sistem sensorik (hardware) dan dalam aturan dan strategi (perangkat lunak) yang mereka pelajari.

Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang
masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.

Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran.

(Slavin,2000:176)

Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi [sensation]. Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera. Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu, misalnya.

Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dll. Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Memori jangka pendek (STM) juga dikenal sebagai memori kerja, dan adalah di mana kesadaran ada. STM adalah memenuhi apa yang sudah diketahui, dan di mana pemikiran dilakukan. Saat memahami dan menghadiri rangsangan, informasi kemudian diproses secara aktif berdasarkan informasi yang disimpan dalam LTM (Long Term Memory). Dalam hal karakteristik memori ini terdapat tahap perwakilan yang menirukan bunyi. Hal ini terbatas pada 5-9 item, dan itu berlangsung hanya sekitar 20 detik. Adanya gangguan adalah penyebab utama lupa. Yang paling penting dari karakteristik ini adalah 5-9 item. Sebuah contoh umum dari hal ini adalah informasi untuk memanggil nomor telepon. Setelah operator memberikan nomor tersebut, Anda mulai mengulanginya untuk menyimpannya di STM. Pengulangan ini disebut latihan. Latihan juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi ke dalam LTM, tetapi sangat tidak efisien. Latihan terutama melayani fungsi pemeliharaan, melainkan dapat digunakan untuk menyimpan informasi dalam STM. Saat menghafalkan nomor telepon, jika seseorang menyela Anda untuk mengajukan pertanyaan, hal tersebut akan mengganggu konsentrasi untuk mengingat nomor itu dan nomor telepon hilang.  Sehingga Anda harus memanggil informasi lagi.

Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.

Lingkup / Aplikasi:

Teori pengolahan informasi telah menjadi teori umum kognisi manusia; chunking fenomena telah diverifikasi di semua tingkat proses kognitif.

Contoh:

Contohnya adalah kemampuan untuk mengingat deretan panjang angka biner karena mereka dapat dikodekan ke dalam bentuk desimal. Sebagai contoh, urutan 0010 1000 1001 1100 1101 1010 dapat dengan mudah diingat sebagai 2 8 9 CD A. Tentu saja, hal ini hanya akan bekerja untuk seseorang yang dapat mengkonversi bilangan biner ke heksadesimal.

Prinsip:

1. Memori jangka pendek (atau rentang perhatian) adalah terbatas pada tujuh bongkahan informasi.

2. Perencanaan (dalam bentuk unit TOTE) adalah proses kognitif yang mendasar.

3. Perilaku adalah terorganisasi hierarkis (misalnya, potongan, TOTE unit)